Imam Ibnul Qoyyim berkata, "Kalau tidak karena cobaan & musibah dunia, niscaya manusia terkena penyakit kesombongan, 'ujub (bangga diri) & kekerasan hati"
Tampilkan postingan dengan label Kisah-Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah-Kisah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Mei 2012

Karena Mereka Beriman dan Beramal Sholeh

Dalam pertemuan dgn orang2 di surga, akhirnya mereka mengetahui ttg latar belakang jama’ah, kelompok, dan organisasinya satu sama lain.
Yang dari jama’ah Ikhwanul Muslimin bertemu dengan orang2 Jama’ah Hizbut Tahrir
Yang dari jama’ah Hizbut Tahrir bertemu dengan orang2 Ja’maah Tabligh
Yang dari Jama’ah Tabligh bertemu dengan Orang2 yg selama di Dunia menamakan dirinya pengikut salaf (SALAFI),

Rabu, 16 Mei 2012

Setan Pun Takut Dengan Murka Allah

Alkisah, ada seseorang yang bertemu dengan setan di waktu subuh. Tak jelas bagaimana asal usulnya, akhirnya mereka berdua sepakat mengikat tali persahabatan.

Persahabatan pun berlanjut dengan mesranya. Tetapi, sebagaimana ‘teori’ persahabatan dengan setan, selalu saja setan yang mendominasi pengaruh. Manusia sahabat setan itu mulai memiliki sifat-sifat setan.

Rabu, 21 Maret 2012

Kisah Ali Bin Abi Thalib Kehilangan Baju Perang

Ali adalah menantu dan sepupu Rasullulloh. Saat menjadi khalifah, Ali pernah berjalan-jalan di Kufah lalu melihat dengan yakin baju zirah perangnya namun saat itu berada di tangan seorang Nasrani. Ali tidak tahu bagaimana bisa baju zirah perangnya ada di tangan Nasrani tersebut. Sekalipun Ali telah meyakinkan Nasrani tersebut bahwa itu adalah baju zirahnya, namun Nasrani tetap bersikukuh itu miliknya.

Karena tidak menghasilkan mufakat, Ali pun membawa perkara ini ke pengadilan. Yang menjadi hakim (Qadi) saat itu adalah Syarih bin al-Harits.

Syarih bertanya kepada Nasrani tersebut: “Apa pembelaanmu atas apa yang diklaim oleh Amirul Mukminin?”

Nasrani itu menegaskan: “Baju zirah ini milikku, Amirul Mukminin tidak berhak menuduhku!”

Senin, 05 Maret 2012

Persaudaraan dan Cinta

Ketika rasa cinta adalah ikhlas dalam hati ketika orang yang kita cintai bahagia, walaupun tidak memiliki, ini adalah kisah Salman Al Farisi dan Abu Darda' sahabat dari Ansor dalam mencari cinta.
Salman Al Farisi sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita shalihah telah menarik perhatiannya. Tapi bagaimanapun, Madinah bukanlah tempat ia tumbuh dewasa. Ia berpikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi urusan pelik bagi seorang pendatang seperti Salman. Maka, disampaikanlah gejolak hati itu kepada sahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

Kamis, 01 Maret 2012

Sosok Sang Ibu Negara

Ini adalah kisah Ummu Kultsum , Putri dari Ali Ra. Cucu Rasululloh, dan istri dari Khalifah ke 2 yaitu Umar Bin Khatab. Yang mengesankan pada Ummu Kultsum, istri dari Amirul Mukminin, bahwa suatu ketika Umar keluar pada malam hari seperti biasanya untuk mengawasi rakyatnya (inilah keadaan setiap pemimpin yang bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya dalam naungan daulah Islamiyah ). Beliau melewati suatu desa di Madinah, tiba-tiba beliau mendengar suara rintihan wanita yang bersumber dari sebuah gubug, di depan pintu ada seorang laki-laki yang sedang duduk. Umar mengucapkan salam kepadanya dan bertanya kepadanya tentang apa yang terjadi.

Senin, 27 Februari 2012

Si Pengemis Buta

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, "Jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya."

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah saw mendatanginya dengan membawakan makanan. Tanpa berucap sepatah kata pun, Rasulullah menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah Muhammad—orang yang selalu ia caci maki dan sumpah serapahi.

Rasulullah saw melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah saw praktis tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar berkunjung ke rumah anaknya Aisyah, yan g tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah. Ia bertanya kepada anaknya itu, "Anakku, adakah kebiasaan Rasulullah yang belum aku kerjakan?"

Kamis, 12 Januari 2012

Fitnah itu Ibarat Kapas yang Ditiup Angin

" Fitnah itu Ibarat kapas yang ditiup angin, kita tidak akan bisa mengumpulkannya lagi jika sudah tersebar jauh entah kemana".

Sebuah kisah yang bisa kita ambil hikmahnya dari seseorang yang bijak dan baik hatinya, Dikisahkan, ada seorang pedagang yang sangat sukses dan memiliki harta yang berlimpah berdagang keluar kota, Ia sangat di segani oleh masyarakat di daerahnya karena pergaulannya yang salah Si pedagang akhirnya terpengaruh. Dia mulai berjudi dan menghabiskan hasil jerih payahnya hanya untuk berjudi akibat selalu sering berjudi si pedagang itu akhirnya bangkrut, begitu pula anak istrinya terlantar dan menjalani hidup yang sulit.

Agar masyarakat di derahnya tidak mengetahui bahwa kebangkrutannya akibat berjudi dan berfoya-foya, Dia menebar fitnah kepada sahabatnya yang baik hati dan sangat bijak, dan mengatakan bahwa sahabatnya itu yang telah mengkhianati dia dan menggelapkan banyak uangnya.

Karena fitnah lebih kejam dari pembunuhan, maka, Kabar itu semakin hari semakin menyebar, sehingga sahabat yang bijak dan sangat setia itu jatuh sakit dan Mereka sekeluarga hidup menderita, dibenci oleh masyarakat dan dikucilkan dari pergaulan.

Selasa, 10 Januari 2012

Penyesalan Si Tukang Kayu

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan.